Sejarah Kacamata

Kacamata sendiri, jikalau mengacu pada Wikipedia, mampu diartikan sebagai sebuah lensa tipis untuk mata fungsi menormalkan dan mempertajam penglihatan. Konon katanya, ini pertama kali dikenakan oleh bangsa Cina. Biasanya itu terbuat dari lensa yang bersifat oval terlalu besar dan terbuat dari kristal batu serta bingkai dari tempurung kura-kura. Supaya mampu memegang kacanya, bangsa Cina manfaatkan dua kawat yang diberi pemberat serta dikaitkan ke telinga atau lensanya diikatkan ke topi atau manfaatkan kait yang dicantolkan ke pelipis mereka. Bagi bangsa Cina waktu itu, kacamata hanya digunakan sebagai jimat keberuntungan atau alat untuk sebabkan mereka terlihat lebih keren dan berwibawa. Karenanya, tak jarang dari mereka hanya mengenakan bingkai kacamatanya saja, tanpa lensa. Nah, kebalikannya dengan orang-orang Eropa. Alih-alih cuman gaya, kacamata yang jadi dikenal di benua ini pada abad ke-13, digunakan orang-orang untuk menolong penglihatan. Secara bentuk sebetulnya masih mirip dengan apa yang dikenakan bangsa Cina, yaitu terbuat dari kristal batu atau batu transparan. Kacamata jojgja, tempat mencari kacamata berkualitas.

kacamataminusjogja.com

Baru pada akhir abad ke-13, diketahui bahwa pemakaian kaca sebagai lensa jauh lebih baik daripada manfaatkan batu transparan. Hal ini berdasarkan hasil penelitian ilmuwan dan sejarawan Inggris bernama Sir Joseph Needham. Menurut penelitiannya, kacamata ditemukan 1000 th. selanjutnya di Cina dan tersebar ke semua dunia pada zaman kedatangan Marco Polo pada th. 1270. Pada th. 1784, Benjamin Franklin, seorang ilmuwan Amerika, sukses mendapatkan kacamata bifokal yaitu kacamata yang mampu dipergunakan untuk memandang baik untuk jarak jauh maupun jarak dekat.

Sebelum Kacamata Ditemukan

Pertanyaannya sekarang, apa yang dilakukan orang-orang dengan mata minus atau miopia sebelum saat kacamata ditemukan? Bagaimana mereka memandang jarak pandang yang jauh? Menurut seorang kurator museum di College of Optometrists di London, Neil Handley, tidak banyak yang diketahui tentang bagaimana orang berurusan dengan miopia sebelum saat lensa pertama untuk orang rabun jauh diciptakan. Ada perumpamaan lensa cembung genggam abad ke-13 di Eropa yang digunakan untuk menyembuhkan kehilangan penglihatan berkenaan umur yang dikenal sebagai presbiopia. Saat ini kami mengenalnya sebagai kacamata baca. Tetapi teknologi itu tidak diterapkan untuk menyembuhkan rabun jauh hingga 200 th. kemudian. Salah satu lensa genggam cekung pertama terlihat dalam lukisan Paus Leo X di awal abad ke-16. Ia merupakan anggota dari keluarga Medici yang berpengaruh secara politis dan tenar dengan rabun jauhnya.

Penelitian lain menyebutkan, sebagai sebuah kelaianan, miopia atau rabun jauh sendiri sebetulnya merupakan sebuah suasana modern. Yang artinya, tingkat kelainan mata ini sudah meningkat tajam justru dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, para peneliti memproyeksikan bahwa 1/2 populasi dunia akan mengalami rabun jauh pada 2050. Ada banyak perihal yang diduga menjadi penyebab miopia, diantaranya genetik, waktu studi yang meningkat, serta gadget. Ya, hal-hal yang tampaknya tidak banyak, atau apalagi tidak mirip sekali, dilakukan oleh orang-orang di era lalu. Nah, untungkan ya, kami hidup di era kini. Masa dimana memandang tak lagi menjadi perihal yang menyulitkan, pun meski kami miliki mata minus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *